Selasa, 24 Maret 2015

kisah yang salah

Kita sudah begitu lama telah hilang komunikasi, sejak kau meninggalkan diriku beberapa bulan yang lalu.
 Alasan kamu pergi karena masih banyak tugas kuliah yang harus kamu selesaikan. beribu-ribu tulisan yang ku tulis dari beberapa karangan cerita ini yang sebenarnya hanya tertuju padamu. Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis saat ini untuk menghadapi masalah denganmu,  jujur aku tak tahu cara bagaimana menjawab ucapanmu, aku hanya bisa terdiam walaupun sebenarnya aku tak paham apakah yang kau bicarakan mengandung makna konotasi atau denotasi. Aku tak tahu selama ini apa yang kita jalani , status kita begitu abu abu dimataku. Entah aku ini temanmu , pelarianmu , kekasihmu , atau adikmu . Ketika dijauhkan jarak , aku merasa ada rindu dalam setiap percakapan, ada cinta yang kau tunjukan dalam setiap goresan pena di kertas surat, aku tak mengerti apakah itu sungguh rindu dan cinta , atau semua hanya omong kosong belaka yang dikemas begitu sempurna.

Kamu datang membawa energi-energi dalam redupnya duniaku. Aku, sipenulis periang yang senang menangis dalam tulisannya sedang sibuk untuk memilih luka mana yang harus diabadikan dalam tulisan.
Lalu, kau hadir dengan membawa sejuta kebahagiaan yang sulit kupahami. Kehadiranmu menghapus mendung kelabu hari-hariku, ketahuilah perasaan ini sudah mulai membunuh. Tapi, ketahuilah sosokmu mengingatkan aku pada trauma yang telah sembuh,. Aku harap kau bukan bagian dari wanita yang berlomba-lomba menyakitiku. Aku harap kamu adalah sosok baru malaikat pembawa kabar baik, yang membawa perubahan baru dalam setiap langkah dan hari-hariku.
Jam berganti hari, dan semua berputar. Aku jalani, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apakah kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam dihatiku? Atau mungkin saja tak punya hati.

Aku tidak bermaksud mengganggu rutinitasmu. Seperti hal-hal sederhana yang selalu kamu ceritakan padaku. Kamu selalu sibuk mengurus pekerjaan dinas dirumah sakit, lalu membagi waktumu untuk belajar dikampus, kemudian dalam langkah kamu memasuki rumah, senyummu masih kautunjukkan untuk keluarga tercinta. Padahal aku yakin, isi otakmu masih terbagi untuk rumah sakit. Aku kagum padamu. Si bungsu yang berusaha jadi segalanya untuk keluarganya. Wanita dengan penuh senyum memukau. Satu hal yang membuatku terharu. Kau berceritakan padaku tentang semua rencana masa depanmu, walaupun kita sangat jarang membicarakan tentang itu. Meskipun, aku dan kamu selalu takut untuk mengetahui kenyataan. Disinilah batas keteguhan hati kita diuji, seberapa besar kekuatan doamu dan doaku.

Bulan ketiga setelah kepergianmu, semua terasa begitu berbeda, semua terasa tak lagi sama, begitu absurd
tak ada yang kuketahui selain aku mencari-cari untuk melupakanmu. Aku bertingkah seakan-akan semua kembali seperti semula, aku tanpamu kamu tanpaku, kita tak berjalan pada arah yang sama. Seperti yang kuketahui sebelumnya, kau selalu berusaha sangat keras untuk melupakan aku, sementara aku tak pernah berusaha untuk melupakanmu.

Tanpa kusadari, namamu selalu kuselipkan dalam doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikan jemariku. Tanpa kesengajaan, kau hadir dalam mimpiku, kau peluk tubuhku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum pernah kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku telah terisi oleh hadirmu, laju otakku tak mau berhenti memikirkanmu. Berlebihankah? Bukankah mahluk tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta.
Kau selalu ingin diutamakan. Kau selalu menganggap pernyataanmu benar. Nona egois, dengarlah! Nona egois, kamu kelewat egois!
Memang didepannya aku tak pernah mempermasalahkan pengabaiannya, tapi justru tindakan itulah yang membuatku tersiksa dibelakangnya.

Aku seringkali merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupnya, karena dia memang jarang memperlakukanku layaknya seorang pria yang penting dalam hidupnya, padahal aku selalu menganggap dia seseorang yang paling penting dalam hidupku, bahwa sebagian diriku ada bersamanya. Lupakan makan malam dipinggir jalan, lupakan gandengan tangan yang manis, lupakan karokean yang menghapus penat sesaat, aku memang tak seromantis pria-pria lainnya. Mungkin, perasaanku buta akan cinta sesungguhnya.
Mungkin aku labil dan tidak cerdas secara emosi. Aku pernah mencoba berkali-kali melupakanmu, tapi sayangnya hal itu tidak dapat dilakukan secara instan.
 

Senin, 23 Maret 2015

cerita dipenghujung malam

Setelah hujan rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota bekasi jatuh satu-satu.
Diatas atap rumah, aku sedang memandang bintang-bintang yang belum habis termakan malam. Cahayanya terselip di antara terang lampu tembak. Rasanya memang sulit melupakan peristiwa yang sengaja diciptakan
untuk tidak dilupakan. Aku memeluknya rapat sekali. Tak sejengkalpun tubuh kami menjauh. Hembusan napas yang terdengar sangat hangat ditelingaku, menyusup masuk ke dalam dadaku. Ia menerima pelukanku dengan ikhlas, tak bergerak banyak, hanya diam.
Menit-menit yang berlalu dengan sangat manis, sungguh tak ingin kutukar dengan kebahagiaan lain yang mungkin lebih menjanjikan.
Hal ini sungguh mengganggu pikiran. Mungkin, aku terlalu perasa, hingga aku tak pernah tahan melihat seseorang terluka bukan karena sakit yang ia buat sendiri. Seperti kamu yang telah aku bohongi karena akan takut cinta yang semakin deras.

Dimalam yang semakin dingin ini, aku berikan semua chat-chat hangat. Lagi-lagi kamu bercerita tentang kita.
Kita yang sebabkan luka namun tak ingin mengobatinya bersama-sama. Aku hanya bisa berkomentar, semua terjadi tanpa kita minta bukan? Kita juga tak berencana untuk saling menyakiti. Semua terjadi begitu saja. Tanpa pernah kita ketahui. Aku tahu ini bodoh, terlalu banyak perasaan asing yang mulai meremas dan menguras hari-harimu dan hari-hariku. Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kaupahami. Karena aku tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apa lagi berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu nyanyian bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kau benci.

Malam ini, semua tampak lebih abu-abu. Begitu banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, kita ceritakan sangat rapi dalam setiap bisikan malam, adakah peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu? Aku berusaha menerima, kita semakin hari semakin dewasa dan semakin berubah dalam segala hal. Kamu mengajarkanku banyak rasa. Dari rasa canggung, malu, bingung, berbohong pada perasaan sendiri, memendam dan enggan banyak berkomentar. Sosokmulah yang telah memacu aku bercerita lewat novel, novel pertama yang kubuat yang bertemakan seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan. Pemilihan katanya masih berantakan, mungkin jika saat itu kutunjukkan padamu, pasti tertawa dan mengejekku.

Semua seperti mimpi yang sulit diputar ulang kembali. seandainya hidup adalah kaset, aku ingin terus kembali memainkan lagu yang sama, dengan irama yang begitu indah. Saat malam semakin panjang , dan mataku mulai redup. Lalu aku mulai mengakhiri obrolan kita dipenghujung malam.
Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada disampingku dan merasakan yang juga aku rasakan. Maka mungkin tak ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita.
Lalu kuredupkan mata kembali dan lekas pergi ke istana dunia mimpi.

Akhir dari senja

Ketika sore kuterbangun dari mimpi. Dikala senja menghampiri, dikamarku yang sepi, sambil mendengarkan
rintik hujan sore ini, aku hanya bisa diam dan merenung. Mungkin aku pria paling bodoh, ketika kamu menawarkan banyak mimpi padaku, sebagai pria biasa yang masih meraba-raba apa itu cinta. Sore ini, dipuncak dari semua kesalahan. Aku bergegas keluar rumah dengan kendaraan yang aku tunggangi menuju rumahmu, sesampai didepan rumah. Kutelpon kamu berkali kali, suara beratmu cukup menjawab. "Dek, aku didepan rumahmu.
 "Kamu mengawali pembicaraan diikuti hembusan napas berat.
"kamu bertanya padaku, ngapain kamu didepan rumah? "Kujawab pertanyaanmu yang lembut.
 "Maafkan aku. Aku telah berbohong padamu." Aku diam. Menghela napas lagi sekali lagi. Aku katakan hal yang sama.
"Kamu tiba-tiba bertanya padaku. Kok, aku baru tahu ya kamu berbohong padaku. Apa alasannya kau berbohong padaku. Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan yang kau lemparkan padaku. Aku diam. Menghela napas, dan ku jawab pertanyaanmu.
"Kamu mau tahu apa alasannya aku berbohong. Karena aku, tidak mau kamu kecewa saat kita melangkah jauh. Dan, kamu melangkah ke jendela sambil kau tutup panggilan ponselku. Lalu kamu, membuka jendela penuh kesedihan, dan kamu berkata. Rasanya tidak adil jika aku mencintai kamu yang kurasa sempurna, namun sebenarnya penuh kebodohan.
Hujan diluar. Masih menimbulkan udara dingin ditubuhku, kau sesekali mengintip dari balik jendela dan melihat, keadaanku yang diguyur hujan deras dan angin yang bertiup kencang mendinginkan seluruh tubuhku. Dan. "Kamu berkata, apakah hujan akan berhenti dengan segera. Aku engga tega melihat dia kehujaan serta kedinginan seperti itu. "Oh. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tanpa kau berpikir panjang, lalu kamu segera mungkin bergegas keluar, sambil membawa payung dan menghampiriku.
"Kamu berkata, kamu bodoh" ucap bibirmu dengan wajah sedih, " Nanti. Kalau kamu sakit, masuk angin bagaimana. "Kujawab ucapanmu dengan bibir yang membiru dan badan yang menggigil kedinginan. Aku hanya ingin meminta maaf padamu".
Lalu kau diam. Menghela napas, dan berkata, "Tunggu sebentar aku akan
mengambilkan handuk untukmu. Setelah kau ambilkan handuk untukku dan kamu memakaikannya, dipundak bahuku sambil menuntunkan perlahan masuk kedalam rumahmu.
Kau temaniku. Disofa ruang tamu, sambil menatapku dengan tatapan sayu.
"Kamu engga takut sakit, hujan-hujanan diluar sana sampai bibir membiru seperti itu? Hujan yang sangat deras, angin yang bertiup kencang kesana kemari.
Kamu menghela napas berat. "Kalau udah seperti ini, siapa yang ngerasain, kamu kan. Lalu kamu berkata.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu secangkir teh hangat. Aku hanya menatap isi rumah, dan  memandang lampu-lampu yang berkilau diatap rumahmu. Terang, bersinar dan indah. Tidak banyak berubah
setelah beberapa bulan aku tidak kesini. Beberapa menit kamu datang menghampiriku, membawa segelas cangkir teh hangat, lalu aku bangun dengan tubuh yang terbaring diatas sofa, dan meminum beberapa tegukkan. Setelah itu badan kembali kubaringkan di atas sofa, karena kepalaku terasa berat ketika aku paksakan bangun kembali. Karena sehabis diguyur hujan deras tadi, aku menggerutu dalam hati dan berlanjut memandang wajahmu. Aku menghela napas, dan memulai percakapan denganmu, aku berkata maafkan kesalahan dan kebodohanku ini. Yang begitu takut saat melangkah jauh akan kekecewaan terhadap diriku. dengan berulang kali kumengatakannya. Kamu diam, dan memikirkan jawaban tentang pertanyaanku,
beberapa menit kamu menghela napas, dan berkata; Semua cinta itu butuh perjuangan, apapun itu hasilnya
harus kita terima. Aku terdiam, dan berkata " Kamu siap menerima semua hasilnya, apapun itu".
beberapa menit kamu berkata. "Aku siap menerima hasilnya apapun itu".
Dengan hati yang senang, aku memuluknya sampai takan kulepaskan pelukan ini. Kutatap matanya dalam-dalam, dan aku tak bisa berbuat banyak ketika mataku sama-sama berair, dan matanyapun tiba-tiba berair.
Kami sama-sama menangis dalam pelukan, entah tangisan sedih atau bahagia, yang jelas bagiku ini adalah senja yang paling sempurna.
Hingga senja ini, aku belum pulang dari rumahnya. Seusai menyelesaikan masalah untuk hubungan kita.
Seusai aku dan kamu menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini sambil mendengar Cristina Perri melantunkan lagu A thousand years, aku menghitung hari dan waktu yang akan  kita lewati bertahun-tahun.
Namun, entah mengapa kali ini aku sangat tidak ingin kehilangan dia untuk selamanya? Walaupun ada banyak hal yang masih harus aku kerjakan. Langkahku pelan-pelan menuju ke arahmu untuk menggenggam kedua jemari tanganmu. Setelah ku genggam kedua jemari tanganmu terasa begitu lembut dan aku membuat kesepakatan pada dirimu, bahwa aku tidak akan membiarkan kamu sendirian menjalani hidup yang penuh misteri ini, setelah semua merasa cukup akan kesepakatan yang aku ucapkan tadi.
Tak lama kau berjalan ke arah kamarmu dan membawakan ku pakain untuk salinan baju yang aku pakai saat ini lepek dan basah karena sehabis guyuran hujan yang sangat deras, membasahi tubuh ini.
Aku kembali melepaskan genggamanku. Kala senja menutup cahaya emasnya, selang beberapa menit ku mencium keningmu dan berpamitan untuk pulang. Aku menghela napas dan bergegas keluar dari rumah yang aku singgahi. Sesampainya diluar, aku memberikan pelukan hangat dan ucapan terimakasih karena dirimu menemaniku diatas sofa. Tak lupa, aku beberapa kali mencium keningnya sebagai tanda perpisahan kita hari ini. Aku melambaikan tangan sebelum menuju kearah kendaraan yang aku tunggangi.

Sabtu, 21 Maret 2015

seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan (5) END.

Aku tak tahu bahwa kebodohanku begitu berlipat ganda. Aku tak yakin jika ini semua aku lakukan karena aku mencintai dia. Rasanya sangat sulit melupakan sosok yang aku harapkan tetap tinggal tapi ternyata dia
pergi. Sungguh sangat berat menghilangkan seseorang yang aku kira akan menetap tapi pada akhirnya dia
pergi. Aku, sebagai manusia biasa, hanya bisa berharap pada setiap pertemuan.Pengorbanan biasanya di
lakukan meskipun kamu kesakitan. Tapi, ketika jatuh cinta; Ketika kau masih terbangun ditengah malam
hanya untuk mendengar suaranya, saat aku menuggunya menyelesaikan tugas kuliahnya, mana kala pesan
singkatnya kunanti ku tak pernah merasa disakiti. Semua dilakaukan atas dasar cinta, kumencintainya maka
kubersedia menunggunya. Kumencintainya, maka kau izinkan diriku terus menanti, meskipun pada akhirnya
dia tak menjadikanmu tujuan.

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku, setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit unutk
membaca chat singkatmu. Membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam. Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status
yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku.
Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan semua harapanku, kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu.
Sayangnya, semua hal itu tak kau gubris sama sekali. Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa
lambaian tangan. 

Tanpa kau jujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak
pantas lagi berada disisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna
daripada aku. Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah memiliki sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku, kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku menulis ini ketika mulutku tak dapat lagi berkeluh. Aku mengingat sosok yang pernah hadir meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kau tahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah memilihku sebagai tujuan. Tapi,  aku hanyalah persinggahan, tempatmu meletakkan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin tak seharusnya kita saling kenal. Aku terlalu
terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang menganggap semuanya biasa menjadi hal manis? Aku pernah merasakan fase itu. Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku lebar-lebar. Sungguh aku tak menyadari, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja aku tak menyapamu melalui dentingan BBM. Setiap hari aku mencari-cari topik percakapan kita, sampai pada akhirnya aku menemukan topik untuk percakapan yang entah darimana harus aku memulainya. Ketika kuingin memulai percakapan dengan kamu, terlintas dalam pikiranku untuk membahas cerita soal mantan kekasihmu. Ketika kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang pria.
Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kau ketahui. Mungkinkah semua rasa perhatian yang ku berikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku bergejolak dan menaruh semua harapan. Apakah kamu sudah menganggap aku pria spesial meskipun kita tak memiliki status dan ketidakjelasan.

Dari semua sikapku, tak mungkin kau tak tahu aku punya perasaan lebih padamu. Dari semua ceritaku,
tak mungkin kau tak paham bahwa aku mulai jatuh cinta padamu. aku terlalu banyak diam dan memandam,
mungkin disitulah kesalahanku. Terlalu egois tuk mengatakan dan terlalu takut tuk mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah. Aku tak pernah takut saat
mencintaimu. Layaknya air laut yang mengikuti lekukan gelombang, seperti itulah aku membiarkan rasa cinta
terus mengalir tanpa kendali. Langkahku terus mencoba menggapaimu, jemariku merasa menggenggam tanganmu; namun, ternyata semua kosong. Entah karena kau terlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku berusaha mencoba sabar, mencoba sabar menghadapi sikapmu yang seperti kekanak-kanakan. Aku berusaha bertahan, mempertahankan yang tak harus dilepaskan. Aku sudah menunggu sangat terlalu lama, mengharap pengertianmu menderas kearahku.

Setiap orang punya kisah masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam dan menunggu pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah yang selama ini aku lakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.
Ketika suaramu mengalir diujung telpon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak, kau tidak memedulikanku seperti aku memedulikanmu, tak ada cinta
dimatamu seperti cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya,  aku masih ingin mempertahankanmu. Setelah semua yang kita daki, yakinkah ada tebing diujung sana? Sesudah beberapa bukit yang kita lalui, akankah kita tak akan bertemu bukit yang lebih panjang? Tak ada yang pasti, nona. Kita hanya tahu melangkah, dan terus melangkah menikmati yang ada dikanan-kiri, melihat yang ada didepan kita, dan menerima semua yang harus kita pasrahkan.

seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan (4)


Saat sang malam tiba. Gelap tiada berbintang, hujanpun mulai menangis, aku datang baik-baik tuk bertanya mengenai hal-hal manis, sejak hampir beberapa bulan ini kita hampir tidak dapat berjumpa.
Sosok dirimu menyelinap dalam ruang rindu ketahuilah kamu itu adalah seseorang yang sangat berharga bagi hidupku,
hampir setiap malam aku selalu merindukan chat-chat hangat kita, di kamarku yang sepi, sambil mendengarkan lagu-lagu yang aku putar malam ini. Aku hanya bisa terdiam dan merenung, mungkin aku pria bodoh yang pernah ada, pria yang selalu mencintaimu tanpa menuntut apa-apa. Perlu kamu ketahui nona, setiap kali aku bertemu kamu di gedung seminar, rasanya aku ingin menatap wajahmu lebih lama lagi. Nona,
ini rahasiaku, mungkin bisa kau katakan ini gila, ini bodoh, ini tolol, dan ini lelucon, aku hanyalah pria yang berkuliah di sebuah universitas Jagakarsa sedangkan kamu yang berkuliah di universitas MH Thamrin, aku hanya bisa memandangmu dari layar hp, berharap suatu saat nanti kita dapat meluangkan waktu bersama.
Entah bagaimana tuhan yang menyembunyikan segala macam rencanannya. Kasih aku menulis ini sambil mendengarkan lagu ciptaan Ahmad Dhani berjudul Immortal Love Song. Namun lagu ini, menceritakan persahabatan dan cinta seperti yang kurasakan, tentang pria yang diam-diam mencintai sosok wanita?  Dalam lagu ini, sangat jelas, ada seseorang yang jadi bodoh, tolol, lebay karena ia jatuh cinta. Sedangkan sih wanita itu jelas-jelas udah ada yang punya, tapi ia tetap ngejar-ngejar wanita itu bahkan bertahan demi apapun.
Seperti aku yang sedang dalam fase itu dan jika suatu hari nanti kamu akan membacanya, kamu pasti ingin
bilang aku gila, lebay. Asal kau tahu aku tak pernah meminta pada tuhan untuk mencintaimu. Ini hanya kebetulan kita bertemu dan aku mencintaimu, pasti ada sesuatu yang tak mampu kita pahami dan mengerti.

Sejak tulisan bertema sama telah kutulis. Aku menulis tentangmu yang bertambah umur satu lagi.
Semua rasanya tak lagi berbeda, apakah kamu punya perasaan yang sama terhadapku? Entahlah,
memang perasaan itu sudah lama sekali, bahkan sudah menghilang. Tetapi bukankah manusia adalah
mahluk paling sulit untuk melupakan? Perasaan bisa hilang tapi ingatan tidak. Seperti tulisan yang aku
tulis hari demi hari, nampaknya tulisan kali ini pun juga tak akan pernah kau baca. Tulisan ini tertuju
banyaknya perhatian padamu. Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang pria yang sangat sibuk
untuk melakukan banyak hal. Berusaha mencari kesibukan baru diluar agar dia tak lagi mengingatmu.
Pria ini tempat kausempat berbagi canda tawa sebelum akhirnya kau membuat dia terluka.
Tapi kembali, kebagian awal. Dia pria bodoh, tolol  yang mau-maunya kau jadikan pelarian, bukan
tujuan. Bahkan dia tau saat kau membohonginya, dia sama sekali tidak membencimu. Dalam rasa sakitnya.

Kamu datang membawa banyak harapan, kau hangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang aku
sebuat cinta. Aku genggam dengan lembut perasaanmu dengan sesuatu yang kusebut dengan kisah nyata.
Lalu, sosokmu masuk dalam hidupku; membawa warna berbeda di setiap hari-hariku. Suaramu mengalir
ditelingaku setiap malam. Menghujaniku dengan kata sayang, dan membawa terbang ke mimpi-mimpi yang pernah kita rangkai dengan manis. Hadirmu membuat aku percaya bahwa cinta tak menguras air mata.
Aku begitu mudah merasa nyaman denganmu, ku ikuti permainanmu, permainan yang tak kuketahui peraturannya. Aku masuk tanpa persiapan, ketika kau bawa aku berlari, berjalan, berhenti; aku masih
tetap merasa baik baik saja. Padahal, diam-diam, kau sedang merancang sesuatu yang ujung-ujungnya
malah menyakitiku. Aku salah mengartikan semuanya. Kukira segala ungkapan dan ucapanmu adalah
hal mutlak menjadi peganganku. Aku menunggu saat-saat aku dan kamu melebur jadi satu. Saat aku
dan kamu melupakan perbedaan kita, saat-saat aku tak peduli berapa kemewahan yang kamu miliki,
saat aku tak peduli dengan kendaraan apa yang kau naiki.

Kita pernah begitu dekat. Aku dan kamu bertemu, saling tahu, dan sama-sama  memahami bahwa ada
sesuatu dihati kita; yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku menatap matamu dengan tatapan
mendalam, aku percaya disana ada cinta. Cinta yang sama-sama kita rasakan, tapi tertahan dalam hati,
berdiam dalam jantung, dan enggan menemukan waktu pengungkapan. Menjalani kisah yang tak pernah
jelas dimana ujungnya. teka-teki membuat aku penasaran, lalu aku memutuskan tuk berjalan, walaupun
tak beriringan. Teman-temanku sering bilang, bahwa seharusnya aku tak mempertahankanmu sedalam itu,
harusnya aku tak perlu memercayaimu sedalam itu. Tapi, mengapa perasaanku hanya ingin meyakinimu?
mengapa aku enggan melawan ketika saat kamu megajakku terbang ke angkasa paling tinggi, lalu membiarkanku terbang diangkasa sendirian? Sayang mengapa aku harus percaya bahwa kau juga punya perasaan yang sama?
Tak mungkin kau terlalu buta tuk memahami semuanya, tak mungkin kau terlalu bodoh untuk menebak
yang ada didalam hatiku. Sayang, ini cinta, dengan cara apalagi bisa kubilang padamu bahwa aku mencintaimu bahkan dalam kesakitan apapun?

Jumat, 20 Maret 2015

seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan (3)

Saat kamu memutuskan tuk pergi dari hidupku, aku tak bisa memikirkan apa aku bisa menjalani hidup yang telah kita bangun bersama sampai hari ini. Aku menyesal pernah membuat kamu terluka, aku menyesal telah membuat kamu cinta, sayang kepada diriku, kalau kamu mau tahu, aku juga sama merasakan seperti apa yang kau rasakan. Salahku yang mencintaimu justru aku telah memiliih kekasih, salahku yang membawamu memasuki duniaku. Mungkin ini konyol tapi semua hal yang aku lakukan selalu memaksaku untuk mengingatmu. Aku ingat ketika aku memanggil kamu dengan sebutan bawel, aku kembali mengingat saat aku mendapatkan client curhat di malam hari, aku ingat ketika jeda curhat dengan seorang client curhat, aku menghubungimu hanya untuk mendengar suaramu saja.

Cuaca bekasi yang begitu dingin sehabis ditangisi oleh langit langit mebawaku pada kenangan-kenangan percakapan kita. Aku belum pernah menemukan perempuan dengan suara lugu seperti kamu, kamu membuat aku tergoda dengan percakapan kita dipenghujung malam, kamu mampu menarik ulur hati aku sampai aku terjatuh begitu dalam. Ini bukan salahmu, hanya masalah waktu yang tidak tepat, salahku yang terlalu cepat tertarik pada pesonamu sehingga aku melakukan berbagai macam cara agar aku bisa bersama-sama terus menghabiskan waktu dengan kamu. Kamu memang pintar membuat sebuah teka-teki, kamu berhasil membuat jantung ini berdebar-debar oleh getaran cinta, dan kamu berhasil membuatku kembali pada rasa kehilangan karena terlalu mencintai.

ditengah penghujung malam, kita bertengkar hebat, mengapa tidak dari awal kamu mengaku bahwa kamu telah memiliki kekasih? meskipun kita belum ada status dan ketidak jelasan, kejadian ini membuat aku tepukul dan terluka, ketika kamu telah memiliki seorang kekasih. Bagaimana sebuah perasaan yang dibohongi oleh seserong yang seratus persen kamu percayai? Dan, kamu telah merusak kepercayaan yang dari awal kubangun susah payah demimu. Aku tidak tahu harus menyesal, marah, atau egois untuk melanjutkan hubungan ini. Kamu adalah pembohong yang menghalalkan berbagai cara untuk menghapus semua kesepian dan haus akan perhatian.

Ingin sekali aku mengetahui perasaanmu. Kamu boleh menyalahkan aku,
untuk segala hubungan tak sehat, pertengkaran yang ajaib, rindu selalu ingin memberontak, kangen yang menjengkelkan, serta hal-hal yang aneh membuatmu selalu berpikir, aku ini pria yang berbeda. Yang selalu ingin tahu kabarmu, selalu ingin berjumpa dengamu, anggaplah aku ini pasien amnesia yang butuh terapi,
dan kaulah si obat terapi yang selalu aku butuhkan saat aku hilang ingatan. Anggaplah aku ini stasiun kereta
dan kaulah kereta yang jarang datang dan pergi, singgah dan menetap sesaat; untuk mencari-cari keuntungan yang bisa kau dapatkan. Katakan saja aku ini tiket, yang hanya kau beli ketika bepergian ke pulau jawa, yang rela antri demi berdesak-desakan.
Bayangkan saja aku ini pria yang tak tahu apa-apa, yang melihat wanita sederhana dan humoris, wanita yang setiap selesai bertemu selalu memunculkan harapan baru, wanita yang selalu menimbulkan perasaan kangen, wanita yang bagaimana bisa membuat pria takut merasa kehilangan.

Kamis, 19 Maret 2015

seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan (2)

Saat malam tiba sebenernya hanya peristiwa yang tidak begitu penting, kamu tidak mengangkat panggilan telpon dariku entah itu ketiduran atau memang sengaja kamu tidak mau mengangkat telpon dariku. Semoga ini bukan pertanda bahwa kamu bukan lagi perempuan yang aku kenal dulu. Apakah kamu benar-benar sudah berubah atau merasa bosan dengan kehadiranku yang selama ini kamu tidak mengirimkan tanda satupun seakan bibirmu membeku begitu saja atau mungkin kamu telah menemukan pria lain yang membuat kamu merasa nyaman.

Aku hanya bisa diam beberapa hari ini, dan aku mencoba menerima bahwa kita kini tak lagi
sama. Gara-gara menulis ini, aku kembali teringat pada awal pertemuan kita yang aku anggap sangat manis,
yang melupakan semua segala perbedaan. Ketika sang malam tiba, aku kembali membaca percakapan kita, aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teririrs menginggat hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Seperti biasa, kamu menghilang dan tak ada kabar. Hari ini pun kamu tak mengizinkanku sedikit tuk mengetahui keadaanmu, apa kabarmu, bagaimana dengan kuliahmu, bagaimana dengan kondisi kesehatanmu, aku hanya ingin tahu jawaban sederhana yang keluar dari bibirmu dan kamu tidak memberikan sedikit waktu tuk memberiku jawaban atas semua pertanyaan sederhana itu. Dan, terimakasih, untuk beberapa bulan ini yang penuh campur aduk membuat aku cepat mabuk.

Sejak pertama kali aku mengenalmu kembali, aku tak peduli orang lain menilaimu, bagaimana caramu mencintai seseorang; bagaimana cara bergaulmu diluar sana aku tetap tidak peduli orang lain berkata. Aku hanya mencintaimu dengan tulus bahkan aku ingin menjalin hubungan ini ke jenjang yang serius, aku rela berkorban demi apapun yang membuat kamu senang. Aku menyadari bahwa susunan kata dan logika yang aku tulis mulai berantakan, aku mulai meninggalkan tulisan sebentar, dan berbaring diatas sambil mendengarkan sebuah lagu yang mngerti tentang perasaan saat ini. Kukira dengan cara seperti ini, aku bisa melupakanmu, tapi dengan sebuah lagu ini, aku jadi ingat peristiwa ketika aku tak ingin melepaskanmu dari pelukanku, saat kamu sakit dan hujan turun dilangit bekasi kala itu, sehabis kamu pulang kuliah keesokan malam harinya aku menjenguk kamu dirumah, dan aku lihat kamu berbaring diatas kasur dengan wajah yang begitu pucat. Lalu aku ambil sebuah mangkuk yang berisikan bubur, dan saat itu juga aku suapin kamu dengan  tetesan air mata yang terus berjatuhan. Aku berkata dan berjanji kepada dirimu aku takan pernah meninggalkanmu, aku akan tetap disini menemanimu sapai kamu sembuh total, lalu kamu berkata kepadaku kamu begitu baik. Terimakasih kamu udah ngejenguk aku, aku dijenguk kamu aja udah merasa senang apa lagi ditemani kamu, sudahlah kamu tak perlu menemaniku bagaimana nanti dengan kuliahmu, aku tidak mau aja kuliah kamu terganggu oleh keadaan aku seperti ini, aku menjawab? tidak apa-apa aku tetap disini menemani kamu sampe kamu sembuh total kalo masalah kuliah itu belakangan yang terpenting buat aku adalah kamu sambil aku membelai wajahmu. Tapi kamu tetap membantah menyuruh aku pulang tapi aku tetap kekeh tidak mau pulang dan tetap menjaga kamu sampe sembuh, pada akhirnya kedua orangtuamu turun tangan dan menyuruhku pulang tapi apalah dayaku tak bisa membantah keduaorangtuamu. Lalu aku mengambil jaket diatas kasur terus berpamitan sama kamu dan keduaorangtuamu, sesampai di luar teras halaman rumahmu aku menghela napas sejenak menahan air mata yang selalu ingin keluar, dan aku menyalakan sepeda motor dan lekas pergi meninggalkan halaman rumahmu.

Saat malam tiba aku segera melanjutkan novel yang harus diselesaikan. Dengan badan yang cukup lelah udah 2 hari tidak tidur, aku mencoba menerjemahkan perasaanku. Aku kembali membuka laptop dan melanjutkan novel yang harus aku tulis. Mataku bersayup-sayup tak kuasa menahan hebatnya rasa ngantuk yang datang menghampiri, ditambah lagi perasaan yang aneh yang menghampiri setiap malam-malamku. Entah mengapa, ketika saat aku menulis tiba-tiba air mataku telah berlinang dipelupuk mata segera mungkin aku mengambil tisu dan menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh membasahi laptop.





seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan

aku hanya orang biasa
yang mencintaimu dengan kesederhanaan
yang mengagumimu dengan bayangan semata

kamu nyebelin
tapi ngangenin
aku hanya bisa berandai andai tuk memiliki hatimu seutuhnya
mungkin ini bisa saja disebut perasaan yang bodoh yang dimana
aku berjuang sendirian.

mungkin aku hanya satu dari jutaan pria
yang mencintaimu dengan penuh kesederhanaan
dan selalu memaafkan hal hal yang tidak kau gubris

sinarmu terlalu terang tuk aku lihat
pesonamu selalu menyilaukan pancaran hati
yang dimana aku tidak dapat menahan diri tuk berpaling

ketika sang malam tiba
aku tiba tiba teringat bagaimana pertemuan awal mula kita setelah 8 tahun tak bertemu.
pertemuan ini pertemuan terbodoh yang terjadi di dalam hidupku. saat malam tiba aku dan kamu saling tukar sapa lewat chat kita. aku suguhkan pertanyaan pertanyaan saat mengajak kamu kumpul bareng dengan teman teman kampusku.
aku merayumu lewat chat kita yang semakin lama semakin mengasikkan hingga larut malam tiba akhirnya kamu setuju juga dan kamu membuat kesepakatan pada pertemuan kita.dan kesepakatan itu terjadi pada pukul 10 pagi kita bertemu di bawah komplek rumahmu.

ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi  kamu menghubungi lewat chat, kamu menyuruh aku tuk jemput kamu jam 10 pagi, lalu aku menjawab iya aku jemput kamu jam 10 pagi kita ketemuan di bawah komplek rumahmu.
 3 jam kemudian aku telah tiba dibawah komplek dan menunggu kamu datang.
tidak lama kemudian kamu datang dan menghampiriku dan kita bicara sebentar lalu lekas pergi.
dan perbincangan kita lanjutkan di perjalanan kita saling tukar cerita hingga kita berdua sampe di depan kampusku.
disana ada 2 temanku sepasang kekasih yang telah menunggu kita berdua sangat lama.

aku memperkenalkan dia hadapan teman temanku. lalu kami berempat saling canda tawa sampe ceng-cengan pula. aku cuma tersenyum mereka nge ceng-cengin aku kaya gitu wajar saja aku mengaggapnya. aku menunggu teman yang satu yang bisa kita sebut manusia paling ngaret diantara kita berenam. setelah semuanya kumpul lalu kami lekas pergi mencari tempat karokean.

sesampai ditempat karokean. kita bertujuh nyanyi - nyanyi sejam untuk menghilangkan semua penat yang ada
ditempat karokean mereka semua ngeceng - cengin aku sampe mereka tertawa terbahak bahak.
selesai kita karokean kita nyari makan diluar, sampe luar kita tidak menemukan makanan sama sekali.
kita membuat kesepakatan tuk pergi, lalu mereka semua menjawab bebas dan akupun menjawab bebas juga, pada akhirnya kita semua nemuin solusi kita harus pergi kerumah siapa?
pas banget tuh mall yang kita datangi tepat dekat rumah temenku yang berinisilkan nama F, sesampai kita semua tiba dirumah temenku yang berinisialkan nama F kita kumpul disana kita makan bersama. ketika adzan magrib berkumandang kita semua sholat berjamaah, selesai sholat lalu kita berpamitan dengan keluarga temenku yang berinisialkan F. sampe luar kita bertujuh masih sempet untuk mencari makan, tiba dipinggir jalan kita menemukan tukang nasi goreng yang mangkal. lalu kita bertujuh langsung memesan nasi goreng.

ketika sesampai rumah aku dan kamu bicara lewat chat.
membicarakan soal kejadian tadi saat kumpul dengan teman-teman kampusku
aku lalu bertanya ke kamu apa kamu senang seharian jalan jalan sama aku dan sama teman teman kampusku
dan lalu kamu menjawab senang banget terus temen-temen kampus kamu asik baik juga.
aku berkata maaf ya aku cuma bisa ngajak kamu jalan sampe kita cari makan diluar mall, jujur aku jadi tak enak hati memperlakukanmu tidak seistimewah yang kau harapkan.
aku hanyalah pria yang mencintaimu dengan kesederhanaan yang aku punya maaf juga aku bukan pria yang mengajak gebetannya jalan makan nonton di mall yang besar.
sekali lagi aku minta maaf aku hanya pria yang berstatus mencintaimu dengan kesederhanaan.