Ketika sore kuterbangun dari mimpi. Dikala senja menghampiri, dikamarku yang sepi, sambil mendengarkan
rintik hujan sore ini, aku hanya bisa diam dan merenung. Mungkin aku pria paling bodoh, ketika kamu menawarkan banyak mimpi padaku, sebagai pria biasa yang masih meraba-raba apa itu cinta. Sore ini, dipuncak dari semua kesalahan. Aku bergegas keluar rumah dengan kendaraan yang aku tunggangi menuju rumahmu, sesampai didepan rumah. Kutelpon kamu berkali kali, suara beratmu cukup menjawab. "Dek, aku didepan rumahmu.
"Kamu mengawali pembicaraan diikuti hembusan napas berat.
"kamu bertanya padaku, ngapain kamu didepan rumah? "Kujawab pertanyaanmu yang lembut.
"Maafkan aku. Aku telah berbohong padamu." Aku diam. Menghela napas lagi sekali lagi. Aku katakan hal yang sama.
"Kamu tiba-tiba bertanya padaku. Kok, aku baru tahu ya kamu berbohong padaku. Apa alasannya kau berbohong padaku. Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan yang kau lemparkan padaku. Aku diam. Menghela napas, dan ku jawab pertanyaanmu.
"Kamu mau tahu apa alasannya aku berbohong. Karena aku, tidak mau kamu kecewa saat kita melangkah jauh. Dan, kamu melangkah ke jendela sambil kau tutup panggilan ponselku. Lalu kamu, membuka jendela penuh kesedihan, dan kamu berkata. Rasanya tidak adil jika aku mencintai kamu yang kurasa sempurna, namun sebenarnya penuh kebodohan.
rintik hujan sore ini, aku hanya bisa diam dan merenung. Mungkin aku pria paling bodoh, ketika kamu menawarkan banyak mimpi padaku, sebagai pria biasa yang masih meraba-raba apa itu cinta. Sore ini, dipuncak dari semua kesalahan. Aku bergegas keluar rumah dengan kendaraan yang aku tunggangi menuju rumahmu, sesampai didepan rumah. Kutelpon kamu berkali kali, suara beratmu cukup menjawab. "Dek, aku didepan rumahmu.
"Kamu mengawali pembicaraan diikuti hembusan napas berat.
"kamu bertanya padaku, ngapain kamu didepan rumah? "Kujawab pertanyaanmu yang lembut.
"Maafkan aku. Aku telah berbohong padamu." Aku diam. Menghela napas lagi sekali lagi. Aku katakan hal yang sama.
"Kamu tiba-tiba bertanya padaku. Kok, aku baru tahu ya kamu berbohong padaku. Apa alasannya kau berbohong padaku. Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan yang kau lemparkan padaku. Aku diam. Menghela napas, dan ku jawab pertanyaanmu.
"Kamu mau tahu apa alasannya aku berbohong. Karena aku, tidak mau kamu kecewa saat kita melangkah jauh. Dan, kamu melangkah ke jendela sambil kau tutup panggilan ponselku. Lalu kamu, membuka jendela penuh kesedihan, dan kamu berkata. Rasanya tidak adil jika aku mencintai kamu yang kurasa sempurna, namun sebenarnya penuh kebodohan.
Hujan diluar. Masih menimbulkan udara dingin ditubuhku, kau sesekali mengintip dari balik jendela dan melihat, keadaanku yang diguyur hujan deras dan angin yang bertiup kencang mendinginkan seluruh tubuhku. Dan. "Kamu berkata, apakah hujan akan berhenti dengan segera. Aku engga tega melihat dia kehujaan serta kedinginan seperti itu. "Oh. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tanpa kau berpikir panjang, lalu kamu segera mungkin bergegas keluar, sambil membawa payung dan menghampiriku.
"Kamu berkata, kamu bodoh" ucap bibirmu dengan wajah sedih, " Nanti. Kalau kamu sakit, masuk angin bagaimana. "Kujawab ucapanmu dengan bibir yang membiru dan badan yang menggigil kedinginan. Aku hanya ingin meminta maaf padamu".
Lalu kau diam. Menghela napas, dan berkata, "Tunggu sebentar aku akan
mengambilkan handuk untukmu. Setelah kau ambilkan handuk untukku dan kamu memakaikannya, dipundak bahuku sambil menuntunkan perlahan masuk kedalam rumahmu.
Kau temaniku. Disofa ruang tamu, sambil menatapku dengan tatapan sayu.
"Kamu engga takut sakit, hujan-hujanan diluar sana sampai bibir membiru seperti itu? Hujan yang sangat deras, angin yang bertiup kencang kesana kemari.
"Kamu berkata, kamu bodoh" ucap bibirmu dengan wajah sedih, " Nanti. Kalau kamu sakit, masuk angin bagaimana. "Kujawab ucapanmu dengan bibir yang membiru dan badan yang menggigil kedinginan. Aku hanya ingin meminta maaf padamu".
Lalu kau diam. Menghela napas, dan berkata, "Tunggu sebentar aku akan
mengambilkan handuk untukmu. Setelah kau ambilkan handuk untukku dan kamu memakaikannya, dipundak bahuku sambil menuntunkan perlahan masuk kedalam rumahmu.
Kau temaniku. Disofa ruang tamu, sambil menatapku dengan tatapan sayu.
"Kamu engga takut sakit, hujan-hujanan diluar sana sampai bibir membiru seperti itu? Hujan yang sangat deras, angin yang bertiup kencang kesana kemari.
Kamu menghela napas berat. "Kalau udah seperti ini, siapa yang ngerasain, kamu kan. Lalu kamu berkata.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu secangkir teh hangat. Aku hanya menatap isi rumah, dan memandang lampu-lampu yang berkilau diatap rumahmu. Terang, bersinar dan indah. Tidak banyak berubah
setelah beberapa bulan aku tidak kesini. Beberapa menit kamu datang menghampiriku, membawa segelas cangkir teh hangat, lalu aku bangun dengan tubuh yang terbaring diatas sofa, dan meminum beberapa tegukkan. Setelah itu badan kembali kubaringkan di atas sofa, karena kepalaku terasa berat ketika aku paksakan bangun kembali. Karena sehabis diguyur hujan deras tadi, aku menggerutu dalam hati dan berlanjut memandang wajahmu. Aku menghela napas, dan memulai percakapan denganmu, aku berkata maafkan kesalahan dan kebodohanku ini. Yang begitu takut saat melangkah jauh akan kekecewaan terhadap diriku. dengan berulang kali kumengatakannya. Kamu diam, dan memikirkan jawaban tentang pertanyaanku,
beberapa menit kamu menghela napas, dan berkata; Semua cinta itu butuh perjuangan, apapun itu hasilnya
harus kita terima. Aku terdiam, dan berkata " Kamu siap menerima semua hasilnya, apapun itu".
beberapa menit kamu berkata. "Aku siap menerima hasilnya apapun itu".
Dengan hati yang senang, aku memuluknya sampai takan kulepaskan pelukan ini. Kutatap matanya dalam-dalam, dan aku tak bisa berbuat banyak ketika mataku sama-sama berair, dan matanyapun tiba-tiba berair.
Kami sama-sama menangis dalam pelukan, entah tangisan sedih atau bahagia, yang jelas bagiku ini adalah senja yang paling sempurna.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu secangkir teh hangat. Aku hanya menatap isi rumah, dan memandang lampu-lampu yang berkilau diatap rumahmu. Terang, bersinar dan indah. Tidak banyak berubah
setelah beberapa bulan aku tidak kesini. Beberapa menit kamu datang menghampiriku, membawa segelas cangkir teh hangat, lalu aku bangun dengan tubuh yang terbaring diatas sofa, dan meminum beberapa tegukkan. Setelah itu badan kembali kubaringkan di atas sofa, karena kepalaku terasa berat ketika aku paksakan bangun kembali. Karena sehabis diguyur hujan deras tadi, aku menggerutu dalam hati dan berlanjut memandang wajahmu. Aku menghela napas, dan memulai percakapan denganmu, aku berkata maafkan kesalahan dan kebodohanku ini. Yang begitu takut saat melangkah jauh akan kekecewaan terhadap diriku. dengan berulang kali kumengatakannya. Kamu diam, dan memikirkan jawaban tentang pertanyaanku,
beberapa menit kamu menghela napas, dan berkata; Semua cinta itu butuh perjuangan, apapun itu hasilnya
harus kita terima. Aku terdiam, dan berkata " Kamu siap menerima semua hasilnya, apapun itu".
beberapa menit kamu berkata. "Aku siap menerima hasilnya apapun itu".
Dengan hati yang senang, aku memuluknya sampai takan kulepaskan pelukan ini. Kutatap matanya dalam-dalam, dan aku tak bisa berbuat banyak ketika mataku sama-sama berair, dan matanyapun tiba-tiba berair.
Kami sama-sama menangis dalam pelukan, entah tangisan sedih atau bahagia, yang jelas bagiku ini adalah senja yang paling sempurna.
Hingga senja ini, aku belum pulang dari rumahnya. Seusai menyelesaikan masalah untuk hubungan kita.
Seusai aku dan kamu menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini sambil mendengar Cristina Perri melantunkan lagu A thousand years, aku menghitung hari dan waktu yang akan kita lewati bertahun-tahun.
Namun, entah mengapa kali ini aku sangat tidak ingin kehilangan dia untuk selamanya? Walaupun ada banyak hal yang masih harus aku kerjakan. Langkahku pelan-pelan menuju ke arahmu untuk menggenggam kedua jemari tanganmu. Setelah ku genggam kedua jemari tanganmu terasa begitu lembut dan aku membuat kesepakatan pada dirimu, bahwa aku tidak akan membiarkan kamu sendirian menjalani hidup yang penuh misteri ini, setelah semua merasa cukup akan kesepakatan yang aku ucapkan tadi.
Tak lama kau berjalan ke arah kamarmu dan membawakan ku pakain untuk salinan baju yang aku pakai saat ini lepek dan basah karena sehabis guyuran hujan yang sangat deras, membasahi tubuh ini.
Seusai aku dan kamu menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini sambil mendengar Cristina Perri melantunkan lagu A thousand years, aku menghitung hari dan waktu yang akan kita lewati bertahun-tahun.
Namun, entah mengapa kali ini aku sangat tidak ingin kehilangan dia untuk selamanya? Walaupun ada banyak hal yang masih harus aku kerjakan. Langkahku pelan-pelan menuju ke arahmu untuk menggenggam kedua jemari tanganmu. Setelah ku genggam kedua jemari tanganmu terasa begitu lembut dan aku membuat kesepakatan pada dirimu, bahwa aku tidak akan membiarkan kamu sendirian menjalani hidup yang penuh misteri ini, setelah semua merasa cukup akan kesepakatan yang aku ucapkan tadi.
Tak lama kau berjalan ke arah kamarmu dan membawakan ku pakain untuk salinan baju yang aku pakai saat ini lepek dan basah karena sehabis guyuran hujan yang sangat deras, membasahi tubuh ini.
Aku kembali melepaskan genggamanku. Kala senja menutup cahaya emasnya, selang beberapa menit ku mencium keningmu dan berpamitan untuk pulang. Aku menghela napas dan bergegas keluar dari rumah yang aku singgahi. Sesampainya diluar, aku memberikan pelukan hangat dan ucapan terimakasih karena dirimu menemaniku diatas sofa. Tak lupa, aku beberapa kali mencium keningnya sebagai tanda perpisahan kita hari ini. Aku melambaikan tangan sebelum menuju kearah kendaraan yang aku tunggangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar