Kita sudah begitu lama telah hilang komunikasi, sejak kau meninggalkan diriku beberapa bulan yang lalu.
Alasan kamu pergi karena masih banyak tugas kuliah yang harus kamu selesaikan. beribu-ribu tulisan yang ku tulis dari beberapa karangan cerita ini yang sebenarnya hanya tertuju padamu. Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis saat ini untuk menghadapi masalah denganmu,
jujur aku tak tahu cara bagaimana menjawab ucapanmu, aku hanya bisa terdiam walaupun sebenarnya aku tak paham apakah yang kau bicarakan mengandung makna konotasi atau denotasi. Aku tak tahu selama ini apa yang kita jalani , status kita begitu abu abu dimataku. Entah aku ini temanmu , pelarianmu , kekasihmu , atau adikmu . Ketika
dijauhkan jarak , aku merasa ada rindu dalam setiap percakapan, ada cinta yang kau tunjukan dalam setiap goresan pena di kertas surat, aku tak mengerti apakah itu sungguh rindu dan cinta , atau semua hanya omong kosong belaka yang dikemas begitu sempurna.
Kamu datang membawa energi-energi dalam redupnya duniaku. Aku, sipenulis periang yang senang menangis dalam tulisannya sedang sibuk untuk memilih luka mana yang harus diabadikan dalam tulisan.
Lalu, kau hadir dengan membawa sejuta kebahagiaan yang sulit kupahami. Kehadiranmu menghapus mendung kelabu hari-hariku, ketahuilah perasaan ini sudah mulai membunuh. Tapi, ketahuilah sosokmu mengingatkan aku pada trauma yang telah sembuh,. Aku harap kau bukan bagian dari wanita yang berlomba-lomba menyakitiku. Aku harap kamu adalah sosok baru malaikat pembawa kabar baik, yang membawa perubahan baru dalam setiap langkah dan hari-hariku.
Jam berganti hari, dan semua berputar. Aku jalani, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apakah kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam dihatiku? Atau mungkin saja tak punya hati.
Aku tidak bermaksud mengganggu rutinitasmu. Seperti hal-hal sederhana yang selalu kamu ceritakan padaku. Kamu selalu sibuk mengurus pekerjaan dinas dirumah sakit, lalu membagi waktumu untuk belajar dikampus, kemudian dalam langkah kamu memasuki rumah, senyummu masih kautunjukkan untuk keluarga tercinta. Padahal aku yakin, isi otakmu masih terbagi untuk rumah sakit. Aku kagum padamu. Si bungsu yang berusaha jadi segalanya untuk keluarganya. Wanita dengan penuh senyum memukau. Satu hal yang membuatku terharu. Kau berceritakan padaku tentang semua rencana masa depanmu, walaupun kita sangat jarang membicarakan tentang itu. Meskipun, aku dan kamu selalu takut untuk mengetahui kenyataan. Disinilah batas keteguhan hati kita diuji, seberapa besar kekuatan doamu dan doaku.
Bulan ketiga setelah kepergianmu, semua terasa begitu berbeda, semua terasa tak lagi sama, begitu absurd
tak ada yang kuketahui selain aku mencari-cari untuk melupakanmu. Aku bertingkah seakan-akan semua kembali seperti semula, aku tanpamu kamu tanpaku, kita tak berjalan pada arah yang sama. Seperti yang kuketahui sebelumnya, kau selalu berusaha sangat keras untuk melupakan aku, sementara aku tak pernah berusaha untuk melupakanmu.
Tanpa kusadari, namamu selalu kuselipkan dalam doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikan jemariku. Tanpa kesengajaan, kau hadir dalam mimpiku, kau peluk tubuhku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum pernah kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku telah terisi oleh hadirmu, laju otakku tak mau berhenti memikirkanmu. Berlebihankah? Bukankah mahluk tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta.
Kau selalu ingin diutamakan. Kau selalu menganggap pernyataanmu benar. Nona egois, dengarlah! Nona egois, kamu kelewat egois!
Memang didepannya aku tak pernah mempermasalahkan pengabaiannya, tapi justru tindakan itulah yang membuatku tersiksa dibelakangnya.
Aku seringkali merasa bukan seseorang yang penting dalam hidupnya, karena dia memang jarang memperlakukanku layaknya seorang pria yang penting dalam hidupnya, padahal aku selalu menganggap dia seseorang yang paling penting dalam hidupku, bahwa sebagian diriku ada bersamanya. Lupakan makan malam dipinggir jalan, lupakan gandengan tangan yang manis, lupakan karokean yang menghapus penat sesaat, aku memang tak seromantis pria-pria lainnya. Mungkin, perasaanku buta akan cinta sesungguhnya.
Mungkin aku labil dan tidak cerdas secara emosi. Aku pernah mencoba berkali-kali melupakanmu, tapi sayangnya hal itu tidak dapat dilakukan secara instan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar