Kamis, 19 Maret 2015

seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan (2)

Saat malam tiba sebenernya hanya peristiwa yang tidak begitu penting, kamu tidak mengangkat panggilan telpon dariku entah itu ketiduran atau memang sengaja kamu tidak mau mengangkat telpon dariku. Semoga ini bukan pertanda bahwa kamu bukan lagi perempuan yang aku kenal dulu. Apakah kamu benar-benar sudah berubah atau merasa bosan dengan kehadiranku yang selama ini kamu tidak mengirimkan tanda satupun seakan bibirmu membeku begitu saja atau mungkin kamu telah menemukan pria lain yang membuat kamu merasa nyaman.

Aku hanya bisa diam beberapa hari ini, dan aku mencoba menerima bahwa kita kini tak lagi
sama. Gara-gara menulis ini, aku kembali teringat pada awal pertemuan kita yang aku anggap sangat manis,
yang melupakan semua segala perbedaan. Ketika sang malam tiba, aku kembali membaca percakapan kita, aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teririrs menginggat hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Seperti biasa, kamu menghilang dan tak ada kabar. Hari ini pun kamu tak mengizinkanku sedikit tuk mengetahui keadaanmu, apa kabarmu, bagaimana dengan kuliahmu, bagaimana dengan kondisi kesehatanmu, aku hanya ingin tahu jawaban sederhana yang keluar dari bibirmu dan kamu tidak memberikan sedikit waktu tuk memberiku jawaban atas semua pertanyaan sederhana itu. Dan, terimakasih, untuk beberapa bulan ini yang penuh campur aduk membuat aku cepat mabuk.

Sejak pertama kali aku mengenalmu kembali, aku tak peduli orang lain menilaimu, bagaimana caramu mencintai seseorang; bagaimana cara bergaulmu diluar sana aku tetap tidak peduli orang lain berkata. Aku hanya mencintaimu dengan tulus bahkan aku ingin menjalin hubungan ini ke jenjang yang serius, aku rela berkorban demi apapun yang membuat kamu senang. Aku menyadari bahwa susunan kata dan logika yang aku tulis mulai berantakan, aku mulai meninggalkan tulisan sebentar, dan berbaring diatas sambil mendengarkan sebuah lagu yang mngerti tentang perasaan saat ini. Kukira dengan cara seperti ini, aku bisa melupakanmu, tapi dengan sebuah lagu ini, aku jadi ingat peristiwa ketika aku tak ingin melepaskanmu dari pelukanku, saat kamu sakit dan hujan turun dilangit bekasi kala itu, sehabis kamu pulang kuliah keesokan malam harinya aku menjenguk kamu dirumah, dan aku lihat kamu berbaring diatas kasur dengan wajah yang begitu pucat. Lalu aku ambil sebuah mangkuk yang berisikan bubur, dan saat itu juga aku suapin kamu dengan  tetesan air mata yang terus berjatuhan. Aku berkata dan berjanji kepada dirimu aku takan pernah meninggalkanmu, aku akan tetap disini menemanimu sapai kamu sembuh total, lalu kamu berkata kepadaku kamu begitu baik. Terimakasih kamu udah ngejenguk aku, aku dijenguk kamu aja udah merasa senang apa lagi ditemani kamu, sudahlah kamu tak perlu menemaniku bagaimana nanti dengan kuliahmu, aku tidak mau aja kuliah kamu terganggu oleh keadaan aku seperti ini, aku menjawab? tidak apa-apa aku tetap disini menemani kamu sampe kamu sembuh total kalo masalah kuliah itu belakangan yang terpenting buat aku adalah kamu sambil aku membelai wajahmu. Tapi kamu tetap membantah menyuruh aku pulang tapi aku tetap kekeh tidak mau pulang dan tetap menjaga kamu sampe sembuh, pada akhirnya kedua orangtuamu turun tangan dan menyuruhku pulang tapi apalah dayaku tak bisa membantah keduaorangtuamu. Lalu aku mengambil jaket diatas kasur terus berpamitan sama kamu dan keduaorangtuamu, sesampai di luar teras halaman rumahmu aku menghela napas sejenak menahan air mata yang selalu ingin keluar, dan aku menyalakan sepeda motor dan lekas pergi meninggalkan halaman rumahmu.

Saat malam tiba aku segera melanjutkan novel yang harus diselesaikan. Dengan badan yang cukup lelah udah 2 hari tidak tidur, aku mencoba menerjemahkan perasaanku. Aku kembali membuka laptop dan melanjutkan novel yang harus aku tulis. Mataku bersayup-sayup tak kuasa menahan hebatnya rasa ngantuk yang datang menghampiri, ditambah lagi perasaan yang aneh yang menghampiri setiap malam-malamku. Entah mengapa, ketika saat aku menulis tiba-tiba air mataku telah berlinang dipelupuk mata segera mungkin aku mengambil tisu dan menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh membasahi laptop.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar