Setelah hujan rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota bekasi jatuh satu-satu.
Diatas atap rumah, aku sedang memandang bintang-bintang yang belum habis termakan malam. Cahayanya terselip di antara terang lampu tembak. Rasanya memang sulit melupakan peristiwa yang sengaja diciptakan
untuk tidak dilupakan. Aku memeluknya rapat sekali. Tak sejengkalpun tubuh kami menjauh. Hembusan napas yang terdengar sangat hangat ditelingaku, menyusup masuk ke dalam dadaku. Ia menerima pelukanku dengan ikhlas, tak bergerak banyak, hanya diam.
Menit-menit yang berlalu dengan sangat manis, sungguh tak ingin kutukar dengan kebahagiaan lain yang mungkin lebih menjanjikan.
Hal ini sungguh mengganggu pikiran. Mungkin, aku terlalu perasa, hingga aku tak pernah tahan melihat seseorang terluka bukan karena sakit yang ia buat sendiri. Seperti kamu yang telah aku bohongi karena akan takut cinta yang semakin deras.
Dimalam yang semakin dingin ini, aku berikan semua chat-chat hangat. Lagi-lagi kamu bercerita tentang kita.
Kita yang sebabkan luka namun tak ingin mengobatinya bersama-sama. Aku hanya bisa berkomentar, semua terjadi tanpa kita minta bukan? Kita juga tak berencana untuk saling menyakiti. Semua terjadi begitu saja. Tanpa pernah kita ketahui. Aku tahu ini bodoh, terlalu banyak perasaan asing yang mulai meremas dan menguras hari-harimu dan hari-hariku. Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kaupahami. Karena aku tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apa lagi berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu nyanyian bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kau benci.
Malam ini, semua tampak lebih abu-abu. Begitu banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, kita ceritakan sangat rapi dalam setiap bisikan malam, adakah peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu? Aku berusaha menerima, kita semakin hari semakin dewasa dan semakin berubah dalam segala hal. Kamu mengajarkanku banyak rasa. Dari rasa canggung, malu, bingung, berbohong pada perasaan sendiri, memendam dan enggan banyak berkomentar. Sosokmulah yang telah memacu aku bercerita lewat novel, novel pertama yang kubuat yang bertemakan seseorang yang mencintaimu dengan kesederhanaan. Pemilihan katanya masih berantakan, mungkin jika saat itu kutunjukkan padamu, pasti tertawa dan mengejekku.
Semua seperti mimpi yang sulit diputar ulang kembali. seandainya hidup adalah kaset, aku ingin terus kembali memainkan lagu yang sama, dengan irama yang begitu indah. Saat malam semakin panjang , dan mataku mulai redup. Lalu aku mulai mengakhiri obrolan kita dipenghujung malam.
Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada disampingku dan merasakan yang juga aku rasakan. Maka mungkin tak ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita.
Lalu kuredupkan mata kembali dan lekas pergi ke istana dunia mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar